Why is Indonesia’s largest circulating daily Kompas lionising this woman? Read the clip below.

| Jangan Ambil Angklung Kami, Pakcik⦠|
| Diplomasi kebudayaan dalam arti yang sesungguhnya terjadi pada Minggu (11/11) malam di Kuala Lumpur Convention Centre. Dan itu dilakukan dengan cerdik oleh seorang wanita yang bukan diplomat, tapi oleh seniman yang sehari- hari adalah instruktur (musik) angklung. |
| Lewat pergelaran angklung interaktif pada salah satu sesi “Malam Budaya Indonesia” di ibu kota negeri jiran tersebut, Ika Widyaningsih dari Saung Angklung Mang Udjo mengajari para undangan dari Malaysia tentang bagaimana seharusnya bermain angklung. Padahal, di Malaysia, seni tradisi ini sudah diklaim sebagai musik nasional kerajaan dengan label music bamboo malay dan (konon) tengah diupayakan untuk mendapat pengakuan UNESCO. |
|
|
Advertisement
Like this:
Be the first to like this post.
Ouch.
I know imitation is the sincerest form of flattery, but to actually patent Angklung as Malaysia’s own? As a Sundanese, I’m intrigued at the verry least. Any relevant link or news-clip about this attempt by Malaysia? or could it possibly be just a fanning-the-flame news, since it’s so ‘in’ nowadays to love to hate Malaysia. But then again, the writer wrote the word ‘konon’ so it could well be just a hearsay.
Duh, sedih banget ya klo angklung benar-benar diambil malaysia. apakah kita orang indonesia rela angklung diakui sebagai milik negara lain? sudah saatnya kita mempertahankan kebudayaan kita! jangan hanya sibuk sendiri mengikuti tren budaya luar.
By teaching Malaysian guests how to play angklung correctly, she had shown the world who is the real owner of Angklung.
Brilliant, madam. Brilliant.
To summarize all that has been written, all the Malaysian Government has to do is to admit that they were indeed recent migrants from Indonesia (most of them anyway) and it’ll be resolved. Because, with the migration, all their crafts, and cultures were brought along with these “Malay” migrants.
All Indonesians can highlight this angle of reality, and no Malaysian will be able to contest the honesty of their history. You can start by naming all those you know, (your relatives or otherwise) who came from the same kampong as yourself. Famous people whom you know can also be on the same list.
According to the Bernie convention, I see no cultural theft. Ethically, I see lots of problems seeing that the 2 countries are divided by political borders rather than cultural ones.
Truly Asia truly headache
ini semua juga karena ulah bangsa sendiri yang sebagian ‘gak punya rasa peduli budaya. Kita juga harus sadar bahwa tidak cuma angklung saja yang nantinya akan diaku sebagai milk bangsa/negara lain, karena begitu banyak kekayaan alam dan budaya kita yang masih kurang mendapatkan perhatian dari bangsanya sendiri. Sekarang masyarakat kita lebih condong menyukai budaya ‘western’ yang dianggap lebih ‘trendy’ dan ‘pretigious’ padahal budaya kita sendiri lebih punya philosophy yang dalam, dimana setiap unsurnya merupakan cerminan diri kita sendiri. Udah waktunya kita harus lebih mawas dan punya rasa memliki terhadap semua hasil karya budaya kita. Jangan cuma bisa marah hanya pada saat suatu bangsa mengakui budaya kita sebagai budaya mereka.
Iya. Harusnya kita sebagai Bangsa Indonesia juga sadar, dong akan budaya Indonesia ini. Jangan hanya bisa bilang gak rela kalo Angklung itu diambil negara lain, tapi juga buktiin omongan kita itu bukan sekedar “omongan” yang gak ada artinya, atau istilah lainnya hanya omongan protes yang gak brguna. Jangan terlalu mengikuti gaya luar, karna sebenernya itu semua udah ngerugiin diri kita, smpai negara kita. Begitu banyak kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, tapi kenapa kita harus seolah apatis dengan budaya kita sendiri..? orang asing malah seneng dengan budaya Indonesia kita yang beragam-ragam. Semoga aja angklung menjadi bener-bener milik negara kita.
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan