The Dutch are responsible for all ills


You have to wonder where there is an expiry date for the sins that the Dutch perpetrated on Indonesia.

Sure, the Dutch who colonized Indonesia were not exactly the most savory of colonizers and they did a lot of harm in Indonesia but when, oh when, will Indonesians like taxman Fuad Rahmany say: “Enough already! It’s time we took responsibility for our actions rather than blame the Dutch.”

Sadly, however, he is not alone. Unspun’s seen too many incidents like this to think its an isolated case of passing the buck, or Guilder, as the case may be. This habit – of not taking responsibility for their actions – seems endemic.

Could it be because of the Joyoboyo Sindrome, where individuals cannot make a difference and the only hope they have of better times is to wait for the Ratu Adil to come save them.

But hang on…is Unspun falling into the trap of blaming present attitudes on a 12th Century soothsayer…. ?

 

Dirjen Pajak: Korupsi, Penyakit Kronis Sejak Zaman VOC

Foto: Angga/detikFinance

Jakarta – Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany menyatakan korupsi merupakan penyakit kronis di Indonesia yang telah ada sejak zaman VOC. Proses pembangunan yang cepat menjadi pemicu berkembangnya korupsi di Indonesia.

“Korupsi ini kita semua menyadari sebagai penyakit yang kronis bagi bangsa Indonesia karena sudah lama berlangsung. Kalau kita baca buku sejarah dan koran-koran, sejak kita merdeka praktik korupsi sudah terjadi tapi sporadis atau satu-satu. VOC juga mengalami penyakit korupsi,” jelas Fuad dalam peringatan Hari Anti Korupsi di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (6/12/2012).

Fuad mengatakan, upaya pemberantasan korupsi sudah dilakukan sejak dulu, namun belum bisa diberantas habis.

“Jadi korupsi semakin besar karena kesempatan besar akibat proses pembangunan yang cepat,” kata Fuad.

Mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapapam LK) ini mengatakan dirinya adalah mantan aktivis saat menjadi mahasiswa Universitas Indonesia di 1974 saat peristiwa Malari berlangsung.

“Tema demo saat itu anti investasi asing yang dibakar Toyota Astra Motor. Tapi kalau anda lihat benihnya adalah kolusi antara penguasa saat itu dengan investor asing. Saat itu harus ada upeti dari investor ke penguasa,” jelasnya.

Karena itu dia meminta para pegawai Ditjen Pajak yang menurutnya adalah instansi tulang punggung negara untuk sama-sama memberantas korupsi sampai nol.

 

3 Comments Add yours

  1. Nindya says:

    What the…

    Blaming corruption to the Dutch. Can’t be more “genius and assuring” than that 😐

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s