Mayday Special: Something stinks in Indonesia but its not the workers

on

Ah! how the world has changed.

There was once upon a time where the needs of labourers were essential items that occupied the lower rung of Maslow’s Hierarchy of Needs like shelter, food, decent wages.

But that was in the Dark Ages. These days the labourers have morphed into worker and their basic needs have changed.

And that is the reason why this May Day Indonesian labourers are demanding that the Government agree to the 84 items that they have listed as being part of their Basic Needs.

Among the items are Television (because radio ain’t loner good enough to keep the workers informed) , telephone credits and – nothing to sniff about – perfume (because workers have to look good to communicate effectively with the Capitalist bosses).

So workers of Indonesia unite! You have nothing to loose but your privacy time, your isolation and your BO.

detikNews : Minta Uang Parfum, Buruh Wanita: Kami Perlu Percantik Diri.Jakarta – Buruh menuntut pemerintah menyetujui 84 komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang di dalamnya terdapat kebutuhan untuk Televisi, pulsa, dan parfum. Beragam buruh mendukung ajuan tersebut. Ini dia alasannya.

Seperti yang diutarakan Nyonya Ne (43), karyawan perusahaan tekstil PT Unitex Bogor ini mengaku tiga komponen tersebut merupakan kebutuhan penunjang produktivitas para buruh. Televisi, menurut Ne, dinilai mampu meningkatkan kapasitas wawasan dunia luar para buruh.

“Dulu itu radio 4 band, itu kan sudah enggak signifikan. Kita butuh hubungan informasi cepat. Kalau radio 4 band itu seperti pembodohan, tidak memberi kesempatan pada buruh untuk maju,” kata Ne saat berbincang dengan detikcom di Bundaran HI, Jumat (1/5/2014).

Perempuan yang sudah bekerja selama 20 tahun ini juga menilai perusahaan seyogyanya memberikan pemenuhan biaya untuk parfum. Item ini menjadi perlu dengan alasan menjaga penampilan di lokasi kerja, terutama kenyamanan saat berhadapan dengan pimpinan.

“Pekerja juga perlu mempercantik diri, ketika beraktifitas banyak keringat keluar, komunikasi dengan pimpinan enggak mungkin juga buat tidak nyaman,” ujar perempuan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) ini.

Senada dengan Ne, Rudi (23), buruh pabrik Adidas Tangerang, mengaku tiga item tersebut diperlukan buruh. Alasan yang dilontarkan tidak jauh beda dengan yang dilontarkan Ne.

Pria yang baru pertama kali ikut aksi ini ditemani sang istri, Rina (21). Dia bercerita mengenai upah yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan selama sebulan. Menurutnya, dari gaji Rp 2,4 juta dia baru bisa menyisihkan Rp 500 ribu setelah dipotong kebutuhan setiap hari dan bulanan.

Read more of this article

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s