Serumpun discord #2

Now, according to Koran Tempo, an NGO focusing on migrant labor, wants to report Malaysia to the UN Human Rights Council for the rape of Indonesian workers by a group of people from Ikatan Relawan Rakyat Malaysia.

This is getting a bit worrying. All it takes is for someone to fan the flames of nationalism and Malaysians in Indonesia may be sitting ducks. Unspun suggests that the Malaysian government looks at ways of managing its image in Indonesia, not least starting from correcting the misperceptions malaysians in malaysia have about Indonesians as a whole, as expressed by the Malaysian Ambassador to indonesia Datuk Zainal’s words to heart (see here)

Selasa, 02 Oktober 2007

Headline

Kasus Pemerkosaan Pekerja Indonesia
Malaysia Akan Dilaporkan ke PBB

Dalang pemerkosaan adalah polisi setempat.

Jakarta — Migrant Care, lembaga swadaya untuk buruh migran, akan melaporkan pemerintah Malaysia ke Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Laporan itu terkait dengan pemerkosaan yang dialami tenaga kerja Indonesia, EW, oleh sekelompok anggota Ikatan Relawan Rakyat Malaysia (Rela).
“Akan kami laporkan ke UN Human Rights Council secepatnya. Selama ini tidak ada tindakan apa pun dari pemerintah RI,” kata analis kebijakan Migrant Care, Wahyu Susilo, kepada Tempo kemarin.
Selain itu, kata Wahyu, anggota Rela akan dilaporkan ke pelapor khusus mengenai hak-hak buruh migran PBB. Langkah serupa dapat dilakukan langsung oleh EW. “Seharusnya yang menggugat adalah pemerintah Indonesia. Sebab, pelaku pemerkosaan adalah anggota Rela yang resmi dibentuk pemerintah Malaysia.”
Menurut Senior Liaison Officer Markas Besar Kepolisian RI di Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur Setyo Wasisto, anggota Polis Diraja Malaysia (PDRM) berpangkat rendah menjadi dalang aksi biadab yang melibatkan 12 orang itu. Si polisi juga telah menyiksa Mujib, suami EW, serta merampas harta benda dan paspor korban. “Pelaku sudah ditangkap bersama sembilan orang lain,” katanya.
Ia menuturkan EW adalah tenaga kerja migran resmi yang memiliki izin bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Klang, Selangor. Namun, tiga bulan kemudian ia melarikan diri dari majikannya. Lalu EW menikah siri dengan Mujib dan tinggal di Petaling Jaya, Selangor.
Pada 7 September, Mujib dan EW didatangi dua orang berseragam yang mengaku anggota kepolisian Selangor. Dengan alasan tidak memiliki izin kerja, EW lantas dibawa ke Muar–150 kilometer dari Selangor.
EW kemudian dibawa ke Hotel R di Muar, dan di bawah todongan senjata api, dia diperkosa beramai-ramai. Pada 8 September, EW dibawa keluar dari hotel dan dijual kepada dua orang Melayu seharga 400 ringgit. “Oleh dua orang itu ia diperkosa lagi,” kata Setyo.
Saat ini EW berada dalam perlindungan shelter Konsulat Jenderal RI Johor Bahru. Menurut Setyo, kondisi psikologis EW sangat lemah. “Apalagi saat ini EW tengah hamil dua setengah bulan.”
Konsulat RI di Johor, menurut Setyo, akan menggugat para pelaku secara pidana ataupun perdata. “Tapi kita lihat dulu. Karena di Malaysia, untuk kasus pidana saja susah, apalagi perdata,” ujarnya. KBRI, kata dia, saat ini masih fokus pada pendampingan korban dan pengusutan kasus.
Berdasarkan catatan Migrant Care, pada April 2007, kasus pemerkosaan oleh aparat Rela juga menimpa SY, seorang tenaga kerja wanita asal Desa Kidang, Kabupaten Mujur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. SY diperkosa oleh polisi Rela di Johor Bahru, Malaysia. “Saat melapor ke kantor polisi Kajang, ia justru dijebloskan ke penjara Semenyih karena tidak berdokumen dan ditahan selama lima hari,” kata Wahyu.
SY kini masih berada di penampungan KBRI Kuala Lumpur dan kehamilannya sudah berusia 6 bulan. Ironisnya, menurut Wahyu, kepolisian Malaysia justru mengirim surat kepada KBRI Kuala Lumpur agar SY segera dipulangkan ke Indonesia. “Tapi kasus pemerkosaannya tidak pernah ditangani.” NININ DAMAYANTI
koran